Berikut ini petikan diskusi bersama Dr. Yusuf Qardhawi seputar polemik mengenai hubungan antara akal pemikiran manusia dan teks-teks syariat (naqal). Hubungan diantara keduanya sebetulnya senantiasa berlangsung di tengah-tengah umat Islam semenjak masa-masa awal dan menjadi lebih hebat lagi di masa khulafa’ rasyidun – semoga Allah meridhai mereka. Setiap kali pintu-pintu ilmu pengetahuan dan kebudayaan terbuka di dunia Islam maka disana senantiasa terjadi hubungan diantara keduanya. Permasalahan ini bertambah ketika muncul polemik mengenai hubungan antara akal dan naqal, segera setelah umat Islam berinteraksi dengan kebudayaan Yunani dan Filsafat Yunani Kuno. Akal dan naqal, ada pertentangan diantara keduanya ataukah tidak ada ? Moderator : Saya sangat gembira karena, sebagaimana biasanya, akan menyertai saya dalam dialog ini yang terhormat Allamah Dr. Yusuf Qardhawi. Selamat datang, Syaikh … Moderator : Kalau boleh saya akan memulai dengan pertanyaan yang barangkali agak aneh, yakni bahwasanya kata akal dan hal-hal yang berorientasi kesana dipakai secara sangat signifikan dalam sejarah pensyariatan Islam, namun tidak terlihat bahwasanya Al-Qur’an menyebut kata ini secara eksplisit dan tegas, akal, begitu. Tidak dimaksudkan dalam hal ini ungkapan-ungkapan seperti “afalaa ya’qiluun”…
|
|
Baca selengkapnya
|
|
Dalam tata bahasa Arab, sebagaimana juga dalam tata bahasa yang lain, kata sebagai satuan terkecil bahasa bisa diklasifikasikan menjadi berbagai macam kelompok. Ini tentu saja kemudian memudahkan kita dalam mempelajari tata bahasa Arab. Kata, dalam bahasa Arab, pertama-tama dibagi menjadi: isim, fi'il dan huruf. Selanjutnya, kata ada yang mabni dan ada yang mu'rab, ada yang mudzakkar dan ada yang muannats, dan sebagainya. Berbagai jenis kelompok kata ini seluruhnya bisa dilihat dalam uraian berikut ini.
|
|
Baca selengkapnya
|
|
Di awal-awal keterlibatan saya dalam organisasi dakwah kampus, kurang lebih pada akhir tahun 90-an, saya sempat dihadapkan pada sebuah fenomena. Beberapa saudara saya, dalam penilaian saya, telah berusaha - secara sadar ataupun tidak sadar - mempertentangkan secara frontal antara kepahaman (al-fahm), kepercayaan (ats-tsiqah), dan ketaatan (ath-tha'ah). Mereka seolah-olah hendak mengatakan bahwa kepahaman dan ketaatan adalah dua hal yang terpisah. Kepahaman ada di satu sisi sedangkan ketaatan ada pada sisi yang lainnya. Realitas yang ada ketika itu, dalam penglihatan saya, adalah bahwa pimpinan organisasi dakwah tidak bisa memberikan (mentransfer) informasi yang cukup kepada para anggotanya, pada saat mereka memberikan berbagai perintah untuk dilaksanakan. Akibatnya, para anggota jadi 'tidak nyambung' dan merasa harus menjadi 'robot'. Ketika ada usaha dari anggota untuk menggali informasi yang ia butuhkan, sekadar untuk meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan adalah baik dan benar, ada anggapan bahwa anggota tersebut telah bersikap kurang taat. Padahal, permasalahannya sesungguhnya bukan masalah taat atau tidak taat, akan tetapi belum cukupnya informasi dan kepahaman.
|
|
Baca selengkapnya
|
|
Gaul Tapi Islami : Bisakah? Kesannya gaul itu tidak islami. Apa benar? Bisakah kita jadi gaul tapi tetap islami? Untuk menjawab pertanyaan ini, bagusnya kita lihat saja model ideal seorang muslim: Rasulullah. Beliau adalah sosok yang menyenangkan. Wajahnya sumringah di hadapan sahabat-sahabatnya. Beliau amat baik kepada keluarganya dan amat penyayang kepada anak-anak. Nah, kita sendiri yang juga muslim ini bagaimana? Bisa tidak seperti beliau?
Moral – Respek – Komunikatif Menjadi gaul yang islami insyaallah bisa kita lakukan dengan minimal tiga kunci: 1) moral, artinya selalu berkomitmen kepada aturan-aturan dan nilai-nilai Islam, 2) respek, artinya menghargai orang lain, dan 3) komunikatif, pandai menjalin komunikasi. |
|
Baca selengkapnya
|
|
Sebaik-baik masyarakat yang pernah ada dalam sejarah adalah masyarakat dibawah kepemimpinan Rasulullah saw (‘ahd al-nubuwwat). Masa tersebut tidak akan pernah bisa terulang vis a vis karena tidak akan pernah ada rasul lagi setelah Rasulullah Muhammad saw. Namun bagaimanapun juga, masyarakat tersebut harus dijiplak karena Rasulullah saw dalam segala hal merupakan uswah bagi umatnya sepanjang zaman. Generasi yang telah berhasil menjiplak manhaj masyarakat Nabi ialah generasi khilafah rasyidah, dibawah kepemimpinan para khalifah yang disebut sebagai al-khulafaa’ al-rasyidun (para khalifah yang mendapatkan petunjuk; kata khalifah sendiri dalam konteks ini bermakna para pengganti kepemimpinan Rasul). Karena itu, dalam hadits futuristik, kepemimpinan ini disebut sebagai al-khilafah ‘ala minhaj al-nubuwwah. Masyarakat yang terakhir disebut ini merupakan generasi terbaik sesudah generasi kenabian, dan sekaligus merupakan patron atau model masyarakat yang ingin diwujudkan oleh umat Islam untuk yang kedua kalinya sebagaimana telah disebutkan dalam hadits futuristik tentang fase-fase umat Islam. |
|
Baca selengkapnya
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 64 - 72 dari 155 |