Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi setiap mukmin. Berikut ini beberapa keistimewaannya.
Pertama, ramadhan adalah rabi’ul hayat (musim semi kehidupan) bagi setiap muslim dan bagi umat ini. Sebagaimana musim semi dimana daun-daun kembali tumbuh dan bunga-bunga bermekaran, setelah sebelumnya kering kerontang, udara menjadi segar setelah sebelumnya kering menusuk tulang, maka demikianlah ramadhan. Di bulan ramadhan, pikiran kita disegarkan kembali dengan banyaknya taklim di masjid-masjid, di kantor-kantor, di radio, di televisi, di surat-surat kabar. Pikiran kita diajak kembali untuk memahami ajaran agama kita. Di bulan ramadhan, ruhani kita disegarkan kembali dengan bacaan Al-Qur’an, sholat tarawih, dan puasa itu sendiri. Di bulan ramadhan, jasad kita pun disegarkan kembali dengan puasa, yang menurut para ahli kesehatan dan medis, bisa menetralisir racun-racun dalam tubuh, dan secara umum sangat baik untuk kesehatan tubuh. |
|
Baca selengkapnya
|
|
Orang Barat mengatakan: Time is money “Waktu adalah uang”. Orang Arab mengatakan: Al-waqtu kas saifi “Waktu ibarat pedang”. Yang jelas, waktu adalah kehidupan itu sendiri, karena hidup kita tidak lain adalah waktu yang kita miliki semenjak kita terlahir sampai kita dijemput kematian. Jika kita menyia-nyiakan waktu kita, berarti kita menyia-nyiakan hidup kita sendiri. Jika ada orang yang mengatakan, “Mari kita bunuh waktu dengan bersenang-senang,” maka sebetulnya mereka telah membunuh hidupnya sendiri, tetapi mereka tidak sadar.
Waktu memiliki beberapa tabiat. Pertama, waktu berlalu sangat cepat, apalagi ketika zaman semakin akhir. Diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah semakin terasa singkatnya waktu. Kedua, jika waktu sudah berlalu, ia tidak akan mungkin kembali lagi. Rabu pekan depan berbeda dengan Rabu pekan ini. Pukul 20.00 besok berbeda dengan pukul 20.00 hari ini. Dalam Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah sendiri tidak jarang bersumpah atas nama waktu. Salah satu maksud dari sumpah-sumpah tersebut adalah agar kita memperhatikan waktu. |
|
Baca selengkapnya
|
|
Ada beberapa kewajiban yang harus kita tunaikan terhadap Al-Qur’an. 1. Mengimaninya dengan sepenuh hati.
Kita harus mengimani semua bagian Al-Qur’an tanpa kecuali. Jangan sampai kita hanya mengimani sebagian isi Al-Qur’an – yang sesuai dengan selera dan kehendak kita – dan mengingkari sebagian yang lainnya – yang tidak sesuai dengan selera dan kehendak kita. Ulaaika humul kaafiruuna haqqan “Mereka itu benar-benar kafir”. Sebaliknya, sikap kita terhadap Al-Qur’an adalah: Sami’na wa atha’naa “Kami mendengar dan kami taat”. 2. Membacanya. Al-Qur’an tidak hanya untuk hiasan dan pajangan. Ia diturunkan untuk dibaca. Tidakkah kita tahu keutamaan membaca Al-Qur’an? Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir dalam membacanya, maka ia akan ditemani para malaikat yang mulia lagi penuh kebaikan. Dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan maka dia akan mendapatkan dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim) Para ulama mengatakan: satu pahala untuk bacaannya, dan satu pahala lagi untuk kesusahannya dalam membaca. |
|
Baca selengkapnya
|
|
Ramadhan Bulan Al-Qur’an
Mengapa Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur’an (syahrul Qur’an)? Setidak-tidaknya ada dua latar belakang. Pertama, karena diturunkannya pertama kali Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan. Ini sesuai dengan firman Allah SWT: “Syahru Ramadhan al-ladzii unzila fihil Qur’an (Bulan Ramadhan yang diturunkan Al-Qur’an pada bulan itu).” Menurut para ulama’, di bulan Ramadhan Al-Qur’an yang 30 juz diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Dan kemudian selama kurun waktu 23 tahun (yaitu selama masa kenabian) diturunkan secara berangsur-angsur. Dan ayat-ayat yang pertama diturunkan di bulan Ramadhan, ketika Rasulullah sedang bertahannuts (menyepi) di Gua Hira, yaitu Al-’Alaq 1-5. Kedua, karena pada setiap Ramadhan, Jibril men-talaqqi (mengajarkan) Rasulullah saw Al-Qur’an seluruhnya. Rasulullah saw dengan dibimbing Jibril, melakukan tadarrus dan mengkhatamkan Al-Qur’an pada setiap Ramadhan. Dengan demikian, Rasulullah selalu mengkhatamkan Al-Qur’an pada setiap Ramadhan. Dan pada tahun terakhir kehidupan beliau, beliau dua kali mengkhatamkannya. |
|
Baca selengkapnya
|
|
Jauh sebelum ada Magna Carta tahun 1215, sebelum Amerika mengumumkan Declaration of Independence tahun 1776, sebelum PBB mengumumkan Universal Declaration of Human Rights tahun 1948, Islam semenjak awal, semenjak tahun 600-an, telah mengumandangkan seruan kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan bagi umat manusia.
Semenjak tumbuhnya di Mekkah, Islam telah menentang penindasan masyarakat kuat terhadap masyarakat lemah. Dan ini bisa kita lihat dari banyaknya ayat-ayat keadilan sosial yang turun pada fase-fase awal Islam di Mekkah. Dan kita semua tahu bahwa jauh sebelum berbagai bangsa menyatakan tidak pada perbudakan, jauh sebelum perbudakan dihapuskan secara total dari muka bumi, Islam telah memberikan anjuran yang kuat untuk membebaskan para budak. Bahkan banyak sekali diantara denda yang ditetapkan dalam Islam adalah berupa pembebasan budak. Dan yang demikian ini terjadi pada zaman di mana perbudakan telah sedemikian kuat di tengah-tengah masyarakat Arab ketika itu. |
|
Baca selengkapnya
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 10 - 18 dari 155 |