Sejarah Palestina: dari Thalut sampai Konstantin
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Selama Zaman Para Hakim, Bani Israil terlihat sulit dikendalikan oleh hakim-hakim yang ada. Ini karena watak Bani Israil yang keras kepala dan suka membangkang. Untuk itu, mereka membutuhkan para pemimpin yang lebih kuat, yang bisa mengatasi sifat keras kepala mereka. Merekapun meminta untuk dipimpin oleh seorang raja, bukan lagi seorang hakim. Maka pada tahun 1525 SM, diangkatlah Thalut sebagai raja mereka yang pertama.
Pada tahun 995 SM, Dawud menggantikan Thalut sebagai raja Bani Israil. Dawud sebelumnya adalah salah seorang tentara Thalut, yang berhasil membunuh Jalut (Goliath), musuh besar Thalut.
Sepeninggal Dawud, tepatnya pada tahun 963 SM, kerajaan Bani Israil dipimpin oleh Sulaiman, putra Dawud. Dibawah kepemimpinan Sulaiman inilah kerajaan Bani Israil mencapai puncak kejayaannya. Dan pada masa kekuasaannya, Sulaiman membangun kembali Masjidil Aqsha Lama.
Kejayaan kerajaan Bani Israil tidak berlangsung lama. Sepeninggal Sulaiman, tepatnya tahun 923 SM, kerajaan mereka terpecah menjadi dua: Kerajaan Israel di sebelah utara, dan Kerajaan Yahuda di sebelah selatan.
Karena lemahnya kekuatan, pada tahun 730 SM Kerajaan Israel berhasil ditaklukkan oleh Assyria. Dan tidak lama berselang, tepatnya pada tahun 584 SM, Raja Nebukadnezar dari Babilonia berhasil menaklukkan Kerajaan Yahuda. Tidak hanya menaklukkan, Nebukadnezar juga menghancurkan Kuil Yahudi, membakar Baitul Maqdis, dan membawa orang-orang Yahudi ke negerinya, Babilonia.
Sejarah Palestina s/d Zaman Para Hakim
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Semenjak tahun 2500 SM, bumi yang sekarang ini disebut sebagai Palestina telah dihuni oleh penduduk aslinya, yang menurut catatan sejarah diidentifikasi sebagai bangsa Kan'an dan bangsa Finik. Kemudian pada tahun 1200 SM, sekelompok kabilah dari Pulai Kreta berhijrah ke kawasan yang sama, namun di bagian yang berbeda, dan membangun sebuah kota bernama P-L-S-T. Inilah para penduduk paling awal yang berhasil dicatat oleh sejarah sebagai penduduk asli Palestina. Jadi, penduduk asli Palestina bukanlah Bani Israil. Nanti akan kita lihat bahwa Bani Israil adalah kaum imigran di Palestina, yang lahir dari garis keturunan Nabi Ibrahim.
Pada tahun 1900 SM, Nabi Ibrahim dan Luth berhijrah dari Iraq ke Palestina. Di Palestina inilah kemudian terlahir keturunan Ibrahim yang bernama Ishaq. Dari Ishaq lahir Ya'qub (yang disebut pula sebagai Israil), dan dari Ya'qub lahirlah Yusuf dan sebelas orang saudaranya. Sebagaimana diketahui dari catatan sejarah, Yusuf kemudian berhijrah ke Mesir dan mendapatkan kedudukan yang terhormat disana. Kemudian, Ya'qub dan keturunannya yang disebut sebagai Bani Israil ikut berhijrah ke Mesir atas permintaan Yusuf. Bangsa Bani Israil pun berkembang biak di Mesir.
Namun beberapa lama setelah wafatnya Yusuf, Bani Israil mengalami nasib yang mengenaskan. Mereka dijadikan sebagai budak oleh fir'aun (raja) Mesir. Pada zaman inilah Musa terlahir diantara bangsa Bani Israil, dan sempat tumbuh dan besar di lingkungan istana fir'aun. Namun setelah sebuah insiden, ia terpaksa harus lari ke Madyan. Dan Musa pun menikah dengan wanita Madyan.
Sejarah Singkat Zionisme
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Dari sisi bahasa, Zionisme berasal dari kata Zion, yaitu nama bukit di kawasan Jerusalem (Al-Quds), yang terkadang dipakai pula untuk menamai dataran tinggi dimana kota Jerusalem berdiri. Dari sisi peristilahan, secara singkat bisa dikatakan bahwa Zionisme adalah suatu paham dan gerakan yang bersifat politis, rasial, dan ekstrim, yang bertujuan untuk menegakkan Negara Khusus bagi Bangsa Yahudi di Palestina, dan melihat hal tersebut sebagai solusi bagi permasalahan-permasalahan orang Yahudi. Adapun sejarah Zionisme secara singkat bisa dipaparkan sebagai berikut:
Gagasan Zionisme mula-mula dicetuskan oleh beberapa agamawan Yahudi. Diantaranya adalah Rabi Judah AlKalai (1798-1878) dan Rabi Zevi Hirsch Kalischer (1795-1874). AlKalai secara aktif membujuk masyarakat untuk bergabung dalam suatu program pemukiman bangsa Yahudi di tanah Palestina. Adapun Kalischer menerbitkan buku "Tuntutan Zionis". Dalam buku tersebut, ia menyarankan kepada orang-orang Yahudi untuk kembali ke Palestina dengan cara melakukan hijrah dan pendudukan. Ia mengajak para investor Yahudi agar memberikan bantuan keuangan yang diperlukan untuk membangun pemukiman-pemukiman dan koloni-koloni pertanian di Palestina. Dan akhirnya Kalischer berhasil mendirikan "Lembaga Bantuan Kolonialisasi Tanah Palestina" yang bekerjasama dengan organisasi "Aliansi Israel Se-Dunia".
Selain AlKalai dan Kalischer, tokoh Yahudi lainnya yang bernama Moses Hess menerbitkan buku dalam bahasa Jerman berjudul "Roma und Jerusalem" (1862), yang memuat pemikiran tentang solusi “masalah Yahudi” di Eropa dengan cara mendorong migrasi orang Yahudi ke Palestina. Menurutt Hess kehadiran bangsa Yahudi di Palestina akan turut membantu memikul “misi orang suci kulit putih untuk mengadabkan bangsa-bangsa Asia yang masih primitif dan memperkenalkan peradaban Barat kepada mereka”. Buku ini memuat pemikiran awal kerja-sama konspirasi Yahudi dengan Barat-Kristen menghadapi bangsa-bangsa Asia pada umumnya, dan dunia Islam pada khususnya.
Siapakah Yahudi Saat Ini?
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Kaum Zionis sering mengklaim bahwa mereka berhak atas bumi Palestina karena mereka adalah pemilik asli tanah tersebut. Mereka mengklaim bahwa pemilik asli bumi Palestina adalah nenek moyang mereka, yakni keturunan Ya'qub (Bani Israil) yang terdiri dari dua belas suku. Klaim ini sebenarnya dengan mudah dapat dipatahkan dengan dua argumen. Yang pertama, penduduk asli bumi Palestina bukanlah Bani Israil. Sebagaimana diketahui, Bani Israil adalah bangsa imigran yang datang ke Palestina setelah mereka keluar dari Mesir. Mungkin kaum Zionis membantah bahwa Yaqub sebelum ke Mesir sudah tinggal di Palestina. Jika mereka berkata demikian, harus diketahui bahwa nenek moyang Ya'qub sendiri yaitu Ibrahim bukanlah penduduk asli Palestina. Ibrahim sendiri adalah seorang imigran, yang lahir di Iraq dan kemudian hijrah ke Palestina. Sebelum Ibrahim sampai di Palestina, Palestina telah didiami oleh penduduk aslinya.
Argumen kedua, orang-orang yang mengaku Yahudi sekarang ini sebetulnya memiliki nasab yang tidak jelas. Maksudnya, tidak semua orang Yahudi sekarang ini adalah keturunan Bani Israel. Bahkan bisa dikatakan bahwa kebanyakan orang Yahudi saat ini, terutama yang kini tinggal di Israel, bukanlah keturunan Bani Israel. Bagaimana bisa? Berikut ini penjelasannya.
Telah dicatat dalam sejarah bahwa berkali-kali para penjajah bumi Palestina telah mengusir orang-orang Yahudi keluar dari Palestina. Ketika Nebukadnezar (Babilonia) menguasai Palestina, ia menawan dan membawa orang-orang Yahudi ke negerinya, Babilonia. Dan akhir dari eksistensi kaum Yahudi di Palestina adalah ketika Raja Titus (Romawi) menawan dan membawa orang-orang Yahudi ke Romawi (Eropa). Sebagian Yahudi ada pula yang lari ke arah selatan, yakni ke Jazirah Arab, sehingga pada zaman Rasulullah saw ditemui ada komunitas Yahudi di Hijaz.
Bani Israil, Yahudi, Ibrani, Zionis dan Israel
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Apakah Anda pernah mendengar kelima kata dalam judul diatas? Jika pernah, apakah Anda bisa benar-benar membedakan kelima kata tersebut? Jika Anda belum bisa membedakannya, Anda tidak usah khawatir karena sekarang kita akan membahas perbedaan tersebut.
Bani Israil terdiri dari kata: Bani dan Israil. Bani artinya keturunan atau anak cucu, sedangkan Israil adalah nama lain (julukan) Nabi Ya'qub as, yang berasal dari dua kata: Isra yang berarti hamba atau kekasih, dan El yang berarti Tuhan, sehingga Israil (Israel) berarti hamba Tuhan atau kekasih Tuhan. Dengan demikian Bani Israil artinya keturunan Nabi Ya'qub as. Sebagaimana diketahui, Nabi Ya'qub as memiliki dua belas orang anak, salah satunya adalah Yusuf as. Jika Anda ingin mengetahui nama-nama sebelas anak Nabi Ya'qub yang lainnya, Anda bisa melihatnya di Perjanjian Lama. Singkat cerita, kedua belas anak Nabi Ya'qub ini kemudian beranak pinak menjadi dua belas suku Bani Israil.
Istilah Bani Israil sendiri dalam Al-Qur'an hanya dipakai untuk menyebut anak cucu Nabi Ya'qub ini, yang kemudian diperbudak oleh Firaun di Mesir, dan kemudian dibawa oleh Nabi Musa as keluar dari Mesir menyeberangi Laut Merah. Sepeninggal Musa as, Bani Israil terus hidup dibawah bimbingan para nabi dan para hakim mereka. Hingga kemudian mereka mengangkat para raja, semenjak Thalut kemudian Dawud kemudian Sulaiman. Di masa Sulaiman ini Bani Israil mencapai puncak kejayaan mereka. Namun kemudian kerajaan Sulaiman meredup (declining), pecah menjadi dua, dan menjadi obyek penjajahan bangsa-bangsa asing. Kepada Bani Israil ini telah diutus sekian banyak nabi dari kalangan mereka sendiri, tetapi diceritakan dalam Al-Qur'an bahwa Bani Israil justru membunuh banyak diantara nabi-nabi tersebut. Sebutan Bani Israil terakhir kali digunakan pada zaman Nabi Isa as, dimana ketika itu Bani Israil tidak mau menerima kenabian Isa as.
Halaman 13 dari 69